
Medan, PKPA Indonesia [25 Juli 2026] – Di tengah masifnya gempuran digitalisasi yang mengikis kearifan budaya dan turut memberikan dampak buruk pada tumbuh kembang anak, Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) sukses menggelar puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) melalui Festival Seni dan Tradisi Ramah Anak (FESTIKA 2026) pada 25 Juli 2026 di Gedung Pancasila Universitas Sumatera Utara (USU). Mengusung narasi strategis “Anak Terjaga, Gawai Secukupnya, Budaya Selamanya,” perhelatan ini memobilisasi lebih dari 800 peserta inklusif untuk membangun kembali ruang ekspresi dan pelestarian identitas budaya anak.
FESTIKA 2026 hadir tidak hanya sebagai perayaan seremonial semata, namun juga sebagai Gerakan taktis lintas sektor yang mengonsolidasikan Pemerintah Kota Medan, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana, Dinas Lingkungan Hidup, puluhan satuan Pendidikan (SD hingga SMA), serta komunitas. Didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan RI melalui skema Dana Indonesia Raya, serta kemitraan internasional strategis bersama Kindernothilfe (KNH) dan Terre des Hommes (TdH), festival ini menegaskan posisi PKPA sebagai pendorong Gerakan pemenuhan hak anak dengan mengangkat kearifan lokal.
Direktur Eksekutif Yayasan PKPA Keumala Dewi menyampaikan bahwa keberhasilan FESTIKA tahun ini menjadi bukti pentingnya kolaborasi multisektor dalam menjaga tumbuh kembang anak di tengah gelombang arus digital yang kuat. “Ruang digital membuka akses yang luas terhadap informasi dan pembelajaran. Namun, di sisi lain, anak-anak juga semakin rentan terhadap berbagai risiko, seperti perundungan siber (cyberbullying), grooming, paparan konten yang tidak sesuai usia, dan berbagai bentuk kekerasan lainnya. Melalui FESTIKA 2026 dengan tema ‘Anak Terjaga, Gawai Secukupnya, Budaya Selamanya’, kami ingin mengajak semua pihak untuk mendampingi anak-anak membangun kebiasaan berteknologi yang sehat tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya. Berbagai kegiatan edukatif dan sarat akan nilai budaya yang diselenggarakan dalam rangkaian FESTIKA ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar dan berekspresi. Maka dari itu, FESTIKA itu sendiri bukan sekadar perayaan, tetapi menjadi momentum bagi kita semua untuk memberikan kontribusi sebaik-baiknya dalam memenuhi hak-hak anak Indonesia.” Tutur Keumala dalam sambutannya pada peringatan FESTIKA 2026 yang digelar di Gedung Pancasila Universitas Sumatera Utara (USU), Sabtu (25/7).
Apresiasi sebesar-besarnya turut disampaikan oleh Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas atas terselenggaranya FESTIKA 2026 yang diinisiasi Yayasan PKPA dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional ini. “Kami mengapresiasi Yayasan PKPA yang terus menghadirkan ruang-ruang positif bagi anak melalui penyelenggaraan FESTIKA 2026. Kegiatan ini menunjukkan bahwa peringatan Hari Anak Nasional tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk menguatkan komitmen bersama dalam memastikan setiap anak dapat tumbuh dan berkembang. Kita juga harus memberikan fasilitas terbaik dan pendampingan yang berkelanjutan kepada keluarga sebagai elemen terpenting dalam perlindungan anak.
Situasi di rumah harus mampu mendukung tumbuh kembang anak sehingga mereka memiliki ruang yang aman untuk belajar dan berkembang sesuai usianya. Tantangan ini tentu tidak mudah, tetapi di sinilah kita harus bekerja lebih keras dan memperkuat kolaborasi agar setiap anak dapat tumbuh secara optimal. Saya berharap semangat yang dibangun melalui FESTIKA 2026 dapat terus menginspirasi seluruh pihak untuk mengambil peran dan berkontribusi dalam mewujudkan Kota Medan yang semakin ramah anak dan Indonesia yang semakin peduli terhadap pemenuhan serta perlindungan hak-hak anak.”



Rangkaian Aksi dan Inovasi Kegiatan FESTIKA 2026
FESTIKA 2026 dikemas dalam rangkaian mata acara yang memadukan edukasi, pelestarian tradisi, dan ruang partisipasi inklusif:
- Panggung Ekspresi Budaya & Advokasi Seni
Panggung utama Gedung Pancasila USU diramaikan oleh ragam tarian tradisional Sumatera, musik daerah, monolog, dan dongeng dongeng yang seluruhnya dibawakan oleh anak-anak. Penampilan ini tidak hanya menampilkan bakat seni, tetapi juga sebagai advokasi pencegahan kecanduan gawai (gadget) dan isu perlindungan anak.
“Saya senang sekali bisa ikut merayakan Hari Anak Nasional melalui FESTIKA 2026. Di sini kami tidak hanya bisa tampil dan menunjukkan bakat, tetapi juga belajar tentang pentingnya menggunakan gawai dengan bijak serta tetap mencintai budaya Indonesia. Saya merasa bangga karena suara dan kreativitas anak-anak diberikan ruang untuk didengar dan dihargai. Saya harap, akan ada banyak kesempatan seperti ini tersedia agar seluruh anak Indonesia dapat menunjukkan bakat serta talenta mereka,” ungkap Rajab, Perwakilan Forum Anak Kelurahan Lalang yang bersama kelompok tarinya turut memeriahkan gelaran puncak FESTIKA 2026.
- Talkshow Parenting untuk Orang Dewasa
Dikhususkan untuk orang dewasa, pendamping, orang tua, dan pendidik, sesi talkshow ini mengulik tantangan pengasuhan di era digital (digital parenting) dengan tema yang diusung adalah “Bermain Berdampingan Hidupkan Budaya Ramah Anak: Anak Terjaga, Gawai Secukupnya, Budaya Selamanya”. Sesi ini turut memberikan panduan dan penjelasan mengenai batasan penggunaan perangkat gadget, deteksi dini kekerasan berbasis siber pada anak, serta strategi membangun komunikasi hangat dalam keluarga.
Selaras dengan apa yang disampaikan oleh Fadhilla Fajrah selaku Psikolog sekaligus narasumber pada talkshow parenting kali ini bahwa ketergantungan anak terhadap gawai sebenarnya tidak terjadi secara tiba-tiba. “Kebiasaan itu sering kali dimulai sejak usia dini, ketika gawai dijadikan sebagai cara tercepat untuk mengalihkan perhatian anak agar tenang atau lebih mudah diatur. Tanpa disadari, kondisi ini dapat menjadi awal terbentuknya ketergantungan anak terhadap gawai. Karena itu, peran orang tua dan pendamping sangat penting dalam membangun kebiasaan yang sehat sejak awal. Anak perlu diberikan alternatif kegiatan yang menarik sesuai usianya.. Ketika anak memiliki banyak kesempatan untuk bereksplorasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, kebutuhan mereka terhadap gawai akan berkurang secara alami,” tuturnya dalam sesi talkshow parenting yang berlangsung.
“Saya turut mengapresiasi pagelaran FESTIKA yang tidak hanya mengajak anak-anak untuk menggunakan gawai secara bijak, tetapi juga melibatkan orang tua, pendamping, dan pendidik melalui sesi talkshow. Perlindungan anak di era digital tidak cukup hanya dengan membatasi durasi penggunaan gawai, tetapi juga dengan membangun hubungan yang hangat dan komunikasi yang terbuka,” imbuhnya.
- Kelas Paralel untuk Anak
Sebagai ruang ekspresi dan budaya untuk anak, di samping kegiatan dengan orang dewasa, tentunya FESTIKA 2026 juga menghadirkan kelas paralel yang memberikan kesempatan kepada anak-anak yang dirancang sebagai ruang belajar interaktif dan eksperiensial. Berkolaborasi dengan berbagai komunitas literasi dan kreatif, kegiatan kelas paralel ini menjadi bentuk nyata edukasi hak anak dalam mencegah kecanduan internet.
Adapun kelas-kelas paralel yang tersedia dibagi atas dua fokus utama, yakni:
Kelas Kriya Tradisional dan Kreasi – Dalam kelas ini, anak diajak untuk menunjukkan keberanian melalui sesi read-aloud (membaca nyaring) bersama komunitas Pustaka Main serta melatih ketangkasan melalui kegiatan ecopounding pada tote bag bersama komunitas Rumah Batik JShibori.
Cerita dan Tutur Budaya – Dalam kelas ini, anak diajak untuk mengenali dan mengelola emosi melalui jurnal kreatif bersama Ephemeral Journal Club. Di sisi lain, anak juga diajak untuk melatih kreativitas dan koordinasi motorik melalui permainan tradisional gasing origami bersama Teras Literasi Mutiara Langit Biru.
- Apresiasi untuk Pemenang dan Pendamping
Puncak acara ditandai dengan penyerahan hadiah bagi pemenang serangkaian lomba kreasi anak yang telah digelar sebelumnya. Selain itu, PKPA memberikan penghargaan dan apresiasi khusus kepada para donor serta mitra pemangku kepentingan yang mendukung keberlanjutan Program Respons Darurat PKPA yaitu sebuah inisiatif penanganan dan pendampingan keluarga serta dalam keadaan rentan dan darurat.
Melalui keberhasilan penyelenggaraan FESTIKA 2026, Yayasan PKPA kembali menegaskan komitmennya dalam mengawal pemenuhan dan perlindungan hak anak di Sumatera Utara. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi yang mendorong terciptanya lingkungan yang inklusif dan ramah anak, sekaligus memperkuat partisipasi anak dalam pelestarian budaya di tengah perkembangan era digital.
Bagi anak-anak yang terlibat, FESTIKA 2026 bukan sekadar ajang menampilkan bakat dan kreativitas, tetapi juga menjadi ruang untuk menyampaikan harapan dan aspirasi mereka terhadap masa depan anak Indonesia. “Pada hari ini, kami merasa sangat bergembira dapat mengikuti FESTIKA. Saya berharap tidak ada lagi anak-anak di Indonesia yang harus bekerja karena keterpaksaan ekonomi hingga mengganggu hak mereka untuk belajar,” ujar Iren, perwakilan Komunitas Anak HEDIPRO. Harapan serupa juga disampaikan oleh Cia dari komunitas yang sama, “Semoga seluruh anak Indonesia, di mana pun berada, dapat tumbuh menjadi penerus Generasi Emas Indonesia di masa depan.”
Yayasan PKPA dengan ini menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkolaborasi dan memberikan dukungan sehingga Festival Seni dan Tradisi Ramah Anak (FESTIKA) 2026 dapat terselenggara dengan baik.
Terima kasih kepada Pemerintah Kota Medan atas sinergi dan kolaborasi dalam mendukung penyelenggaraan peringatan Hari Anak Nasional yang inklusif dan ramah anak. Apresiasi juga kami sampaikan kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana atas dukungan pendanaan, serta kepada Kindernothilfe (KNH), Terre des Hommes (TdH), dan Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ) atas dukungan dan kemitraan yang berkontribusi dalam memperkuat upaya perlindungan serta pemenuhan hak anak di Indonesia.
PKPA turut mengucapkan terima kasih kepada para mitra sponsor yang telah memberikan dukungan bagi penyelenggaraan FESTIKA 2026, yaitu iZone, Dira Coffee & Bun, Toko Bewok, Prodia, Wardah, Grab, Dapur Seroja, dan AQUA. Apresiasi setinggi-tingginya juga kami berikan kepada para mitra komunitas yang telah menghadirkan ruang belajar, berekspresi, dan berkarya bagi anak-anak melalui berbagai kelas dan aktivitas kreatif, yaitu Teras Literasi Mutiara Langit Biru, Rumah Batik JShibori, Pustaka Main, dan Ephemeral Journal Club.
Kolaborasi lintas sektor ini menjadi bukti bahwa perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama. Semoga semangat kebersamaan ini terus tumbuh dalam mewujudkan Indonesia yang semakin ramah anak dengan anak-anak yang terlindungi, berdaya, dan bangga terhadap budaya bangsanya.
Tentang Yayasan PKPA
Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) adalah lembaga non-pemerintah yang berdedikasi sejak 1996 untuk pemenuhan, perlindungan, dan pemajuan hak-hak anak dan perempuan di Indonesia melalui advokasi kebijakan, intervensi komunitas, serta pendampingan hukum dan psikososial. Melalui suksesnya FESTIKA 2026, Yayasan PKPA berkomitmen untuk terus mengawal isu-isu strategis perlindungan anak di Sumatera Utara serta memperkuat ruang partisipasi anak yang inklusif, aman, dan berkelanjutan.
Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA)
