Blog

Gelar Pelatihan P-FIM dan Triple-NEXUS, PKPA Dorong Aksi Kemanusiaan yang Lebih Inklusif dan Berkelanjutan

Peserta pelatihan berdiskusi secara interaktif terkait pendekatan Triple-NEXUS dalam situasi kebencanaan. (Foto oleh: PKPA Indonesia)

Deli Serdang, 30 Agustus 2025 – Yayasan PKPA (Pusat Kajian dan Perlindungan Anak) telah sukses menyelenggarakan “Pelatihan P-FIM dan Triple-NEXUS” pada 28–29 Agustus 2025 di Pancur Gading Hotel, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pelatihan dalam Program ToGETHER yang berfokus pada penguatan kapasitas lembaga mitra dalam aksi-aksi kemanusiaan. Pelatihan ini dapat terselenggara berkat dukungan pendanaan dari ToGETHER dan Kementerian Jerman.

Dengan diikuti oleh 6 lembaga lokal mitra yang biasa disebut sebagai Peer Humanitarian Partner (PHP), pelatihan ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam menerapkan metode P-FIM (People First Impact Method) serta pendekatan Triple-NEXUS, sehingga lembaga mitra mampu merancang dan melaksanakan aksi-aksi kemanusiaan yang lebih berkelanjutan dan terintegrasi.

Pelatihan ini difasilitasi oleh Fandy Zulmi, selaku Manager Program Yayasan PKPA sekaligus fasilitator. Fandy menyampaikan bahwa pelatihan merupakan sebuah langkah penting bagi PKPA dan mitra lokal untuk memperkuat pemahaman serta praktik nyata dalam menerapkan metode P-FIM dan pendekatan Triple-NEXUS. “Salah satu pelatihan yang dijalankan yaitu terkait P-FIM. P-FIM adalah sebuah pendekatan untuk mendengar suara masyarakat secara mendalam agar program atau intervensi yang dilakukan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan prioritas mereka. Pentingnya P-FIM antara lain karena suara komunitas sering kali terabaikan, sementara dengan mendengarkan mereka kita dapat membangun kepercayaan sekaligus mencegah program berjalan salah arah. Melalui pendekatan ini, lembaga mitra dapat merancang program atau inisiatif yang lebih terpersonalisasi sesuai dengan konteks masyarakat di wilayah intervensi,” jelas Fandy.

Sejalan dengan itu, Adrian dari Yayasan Disabilitas Aceh Tamiang menegaskan pentingnya pelatihan ini untuk memastikan suara penyandang disabilitas juga terwadahi dalam proses perencanaan dan implementasi program. “Bagi kami, metode P-FIM sangat relevan karena membuka ruang bagi penyandang disabilitas untuk menyampaikan kebutuhan dan aspirasi mereka secara langsung. Dengan begitu, program kemanusiaan yang dijalankan tidak hanya inklusif, tetapi juga benar-benar mencerminkan realitas dan prioritas komunitas di lapangan,” ungkap Adrian yang ditemui di sela-sela sesi diskusi bersama kelima PHP lainnya pada Kamis, (28/08).

Melalui pelatihan ini, PKPA berharap lembaga-lembaga mitra semakin mampu mengintegrasikan nilai-nilai partisipasi, inklusivitas, dan keberlanjutan ke dalam setiap aksi kemanusiaan yang dilakukan. Harapannya, ke depan semakin banyak inisiatif lokal yang lahir dari suara masyarakat sendiri dan mampu memperkuat ketangguhan komunitas menghadapi berbagai tantangan, baik dalam situasi darurat maupun pembangunan jangka panjang.

Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA).

Kontak Pengaduan Kasus