Blog

PEKERJA ANAK, TOLAK PEKERJA ANAK MELALUI KARYA

Dua puluh lima anak terlihat sibuk dengan beragam aktifitas di Aula Dinas DP3APM Kota Medan, seluruh anak tampak mengenakan kaos putih bergambar seorang anak laki-laki yang sedang mengintip dibalik tulisan TIME TO TALK!

Dwi Ananda (16) salah satu anak yang tengah sibuk berkomat-kamit berlatih karena nantinya akan menjadi pembawa acara, menyempatkan diri menjelaskan bahwa kesibukan anak-anak tersebut dimaksudkan untuk menyambut kedatangan perwakilan pemerintah yang mereka undang untuk menghadiri dialog interaktif  terkait isu pekerja anak yang merupakan bagian dari rangkaian kampanye Time to Talk 2019.

Dwi menjelaskan bahwa seluruh anak yang terlibat dalam kegiatan tersebut adalah pekerja anak yang bekerja di berbagai sektor di kota Medan. Contohnya saja Dwi yang hanya mengecap bangku pendidikan sekolah dasar dan hingga saat ini masih bekerja di warung mie balap dan diupah bulanan oleh pemiliknya.

Dwi sudah menjadi pekerja anak selama 5 tahun dan uang yang dihasilkannya dari bekerja digunakan untuk kebutuhannya sehari-hari. Dwi mulai ikut dalam kampanye Time to Talk sejak Februari 2019 dan sangat antusias menyuarakan haknya sebagai pekerja anak.

Hal senada juga disampaikan oleh Yudha (19) yang sudah lebih awal mengikuti kampanye ini. “Time to Talk memberi ruang bagi saya dan kawan-kawan untuk menyampaikan keresahan kami sebagai pekerja anak. Kami punya banyak alasan untuk bekerja, namun kami juga punya mimpi yang sebelumnya kami takut untuk menyampaikannya.” Ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Yudha (19) yang sudah lebih awal mengikuti kampanye ini. “Time to Talk memberi ruang bagi saya dan kawan-kawan untuk menyampaikan keresahan kami sebagai pekerja anak. Kami punya banyak alasan untuk bekerja, namun kami juga punya mimpi yang sebelumnya kami takut untuk menyampaikannya.” Ujarnya.

Pekerja anak kota Medan yang tergabung dalam Komite Penasehat Anak Time to Talk merasa antusias menyampaikan aspirasi mereka menggunaka lagu dan film. “Dalam lirik lagu yang mereka tulis sendiri, mereka menyampaikan bahwa mereka ingin diperlakukan setara dengan anak-anak lainnya, mereka ingin punya kesempatan untuk menggapai mimpi-mimpi mereka dan mereka ingin pemerintah ikut serta dalam mewujudkan mimpi mereka tersebut.” Papar Ayu selaku fasilitator dalam kampanye Time to Talk tersebut.

Kampanye Time to Talk tidak hanya bertujuan untuk mengajak berbagai pihak baik itu pemerintah, orangtua, sektor bisnis dan juga media untuk ikut serta melihat permasalahan dan diskriminasi yang dialami oleh pekerja anak, tidak hanya itu Time to Talk juga berupaya agak anak-anak memiliki ruang yang lebih luas untuk berpendapat dan berpartisipasi, hal ini coba dimulai dengan memberi peran kepada anak untuk ikut menyusun dan menentukan  langkah dan media apa saja yang ingin mereka gunakan untuk menyampaikan kepada dunia tentang hak dan keinginan mereka.

Kampanye Time to Talk tidak hanya bertujuan untuk mengajak berbagai pihak baik itu pemerintah, orangtua, sektor bisnis dan juga media untuk ikut serta melihat permasalahan dan diskriminasi yang dialami oleh pekerja anak, tidak hanya itu Time to Talk juga berupaya agak anak-anak memiliki ruang yang lebih luas untuk berpendapat dan berpartisipasi, hal ini coba dimulai dengan memberi peran kepada anak untuk ikut menyusun dan menentukan  langkah dan media apa saja yang ingin mereka gunakan untuk menyampaikan kepada dunia tentang hak dan keinginan mereka.